The shackling of people with mental disorders in the light of the encyclical Fratelli Tutti

Main Article Content

Eugenius Koresy Bour
Bertolomeus Ndepong

Abstract

Shackling is still often used as a solution to address issues affecting people with mental disorders (PMD) in Sikka Regency. This study aims to discuss and explain the reality of shackling of PMD in Sikka Regency as a practice of ‘culture of throwing away’ based on the principles outlined in the Encyclical Fratelli Tutti. This research uses a mixed method. The research result shows that people with mental disorders (PMD) are one of the groups that are vulnerable to becoming victims of the culture of throwing away. The manifestation of the culture of throwing away towards the PMD can be seen in the act of shackling. The Encyclical Fratelli Tutti emphatically emphasizes the inherent dignity of every individual and demands full respect for the dignity of all people, including the most vulnerable. According to the Encyclical Fratelli Tutti, the shackling of PMD constitutes an act of violence that tarnishes the sanctity of life and violates human rights. It also manifests egoism and individualism. The shackling of PMD also leads to the breakdown of the family’s proximity relationship. The solution to facing the globalization of indifference, according to Pope Francis, is repentance by living a culture of solidarity, like the example of the Good Samaritan (Luke 10:25-37). Thus, the practice of shackling  PMD in Sikka Regency reflects the ‘culture of throwing away’ criticized by the Encyclical Fratelli Tutti, which emphasizes the importance of respect for human dignity.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Bour, E. K., & Ndepong, B. (2025). The shackling of people with mental disorders in the light of the encyclical Fratelli Tutti. KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen, 6(1), 1-18. https://doi.org/10.34307/kamasean.v6i1.355
Section
Articles

References

Alhajami, Ayasi. “Perilaku Kekerasan dan Ketakutan di Antara Orang dengan Gangguan Jiwa.” Perspektif 2, no. 4 (2023): 292-297. https://10.0.210.187/perspekt.v2i4.489.

Anindhita, Rachel Ayu dan Christiana Hari Soetjiningsih. “Pengetahuan Kesehatan Mental dan Sikap terhadap ODGJ pada Masyarakat Salatiga.” Jurnal Cakrawala Ilmiah 3, no. 4 (2023): 1241-1256. https://bajangjournal.com/index.php/JCI/article/view/7104/5471.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi V. Jakarta: CV Adi Perkasa, 2018.

Bahariyanto, Andre. “Sketsa Dialog Lintas Iman Abad 21: Panggilan bagi Persaudaraan.” Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora 2, no. 1 (2022): 129-144. https://doi.org/10.26593/jsh.v2i01.5798.

Budianto, Viktorius dan Robertus Septiandry. “Persaudaraan Orang Samaria yang Baik Hati Menjadi Model untuk Membangun Persaudaraan Universal Menurut Paus Fransiskus dalam Ensiklik Fratelli Tutti.” Rajawali 20, no. 2 (2023): 44-50. https://ejournal.ust.ac.id/index.php/Rajawali/article/view/2918.

Covarrubias, Irene and Meekyung Han. “Mental Health Stigma about Serious Mental Illness among MSW Students: Social Contact and Attitude.” Social Work 56, no. 4 (2011): 317-325. https://doi.org/10.1093/sw/56.4.317.

Darwan, Susilawati, Andi Buanasari, dan Rina Kundre. “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Pencegahan Pasung terhadap Intensi Pasung pada Keluarga ODGJ di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. V. Ratumbuysang Manado.” Jurnal Keperawatan 7, no. 1 (2019): 1-9. https://doi.org/10.35790/jkp.v7i1.24352.

Daulima. Pelatihan Praktik Keperawatan Jiwa Terkini. Jakarta. Grasindo, 2014.

de Rosary, Ebed. “ODGJ di Sikka Capai 1.220 Orang, Ada yang Gagal Jadi Legislatif dan Kades”. Florespos.net, 13 Maret 2025. https://florespos.net/2025/03/13/odgj-di-sikka-capai-1-220-orang-ada-yang-gagal-jadi-legislatif-dan-kades.

Fhabella, Anten, Subhan Widiansyah, dan Stevany Afrizal. “Upaya Institusi Sosial dalam Menanggulangi Keberadaan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Terlantar (Studi terhadap Institusi Sosial Formal Dinas Sosial Kota Serang).” Padaringan 6, no. 2 (2024): 148-162. https://doi.org/10.20527/pn.v6i02.10852.

Fitriani, Dwi Rahmah. “Hubungan Persepsi dengan Penerimaan Keluarga terhadap ODGJ di Poliklinik RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda.” Borneo Studies and Research 1, no. 3 (2020): 1761-1765. https://journals.umkt.ac.id/index.php/bsr/article/view/966.

Hidayati, Eni, Enwar Usti Sumadi, Desi Ariyana Rahayu, Tri Nurhidayati, dan Zaidah Ismail. “Health Education in Reducing Community Stigma among Persons with Mental Disorders.” Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences, (2022): 26-30. http://repository.unimus.ac.id/id/eprint/6276.

Komisi Waligereja Indonesia. “Ringkasan Ensikli Fratelli Tutti.” DokpenKWI, https://www.dokpenkwi.org/ringkasan-ensiklik-fratelli-tutti/.

Kotan, Daniel Boli. “Pesan Prapaskah Paus Fransiskus.” KomkatKWI. https://komkat-kwi.org/2015/02/05/pesan-prapaskah-2015-paus-fransiskus-mencela-globalisasi-ketidakpedulian/.

Kurniawan, Alhafiz. “Pemasungan ODGJ Teknik Kuno yang Tidak Manusiawi.” NUonline, 10 Oktober 2020. https://nu.or.id/nasional/pemasungan-odgj-teknik-kuno-yang-tidak-manusiawi-QE0VC.

Madung, Otto Gusti Ndegong, Adison Adrianus Sihombing, dan Zaenuddin Hudi Prasojo. “Human Rights and Views of the Catholic Church under Habermas Discourse Theory.” Journal of Southeast Asian Human Rights 7, no. 2 (2023): 154-175. https://doi.org/10.19184/jseahr.v7i2.38464.

Nasriati, Ririn. “Stigma dan Dukungan Keluarga dalam Merawat Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).” Medisains 15, no. 1 (2017): 56-65. https://doi.org/10.30595/medisains.v15i1.1628.

Ngafifi, Muhamad. “Kemajuan Teknologi dan Pola Hidup Manusia dalam Perspektif Sosial Budaya.” Jurnal Pembangunan Pendidikan 2, no 1 (2014): 33-47. https://doi.org/10.21831/jppfa.v2i1.2616.

Patel, Vikram and Kamaldeep Bhui. “Unchaining People with Mental Disorders: Medication Is Not the Solution.” The British Journal of Psychiatry 212, no. 1 (2018): 6-8. https://doi.org/10.1192/bjp.2017.3.

Paus Fransiskus. “Ensiklik Fratelli Tutti tentang Persaudaraan dan Persahabatan Sosial.” Edisi Bahasa Indonesia. Bandung: Keuskupan Bandung, 2019.

Pink, D. H. A Whole New Mind, Bagaimana Para Pengguna Otak Kanan Mampu Menguasai Masa Depan. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2019.

Pratama, Fransiskus Asisi Satria Rudi, Surip Stanislaus, dan Yustinus Slamet Antono. “Penghayatan Tepo Seliro dalam Budaya Jawa di Indonesia sebagai Sumbangsih bagi Dunia Masa Kini untuk Membangun Persaudaraan Universal: Uraian Deskriptif-Kritis terhadap Situasi Dunia Masa Kini dalam Perspektif Budaya Jawa sebagai Usaha untuk Membangun Persaudaraan Universal.” Logos 21, no. 1 (2024): 102-113. https://doi.org/10.54367/logos.v21i1.3421.

Prihartanti, Marcellina dan Patricius Mutiara Andalas. “Teologi Belaskasih Allah dalam Puisi “Sepotong Hati di Angkringan” (2022) Karya Joko Pinurbo.” Divinitas 2, no. 1 (2024): 135-148. https://doi.org/10.24071/div.v2i1.7510.

Putri, Triyana Harlia, Yuyun Tafhwidah, dan Fitri Fujiana. “Peningkatan Pengetahuan Remaja dalam Mereduksi Stigma Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) melalui Edukasi.” Abdimas Universal 5, no. 1 (2023): 105-109. https://doi.org/10.36277/abdimasuniversal.v5i1.288.

Raharjo, Sri Budi. “Perlindungan Hukum terhadap Penderita Gangguan Jiwa Pasca Pasung Ditinjau dari KUHP dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.” Dinamika Hukum 13, no. 1 (2022): 1-15. https://ejurnal.unisri.ac.id/index.php/Dinamika_Hukum/article/view/8401.

Rahayu, Aty Nurillawaty, Novy H. C. Daulima, dan Ice Yulia Wardhani. “Pengalaman Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Paska Pasung dalam Melakukan Rehabilitasi Psikososial” Healthcare Nursing Journal 1, no. 1 (2019): 24-32. https://journal.umtas.ac.id/index.php/healtcare/article/view/299.

Renna, Hendrik Ryan. “Satu Tungku Tiga Batu, Toleransi Hidup Beragama Masyarakat Fak-Fak: Tinjauan Ensiklik Fratelli Tutti.” Cenderawasih 2, no. 2 (2021): 75-86. https://doi.org/10.31957/jap.v2i2.1842.

Saluhang, Brigita, Andi Buanasari, Hendro J. Biduni, Ferdinand Wowiling, dan B. H. Ralph Kairupan. “Persepsi dan Perilaku Masyarakat terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa: Studi Kualitatif.” Jurnal Keperawatan 10, no. 1 (2022): 86-98. https://doi.org/10.35790/jkp.v10i1.37666.

Satrio, Anthonius Panji dan R. F. Bhanu Viktorahadi. “Politik Kemanusiaan dalam Ensiklik Fratelli Tutti.” Jaqfi 6, no. 2 (2021): 141-158. https://doi.org/10.15575/jaqfi.v6i2.14072.

Setiawan, Lilik dan Gaury Intan Koswara. “Penerimaan Masyarakat pada Penderita Gangguan Jiwa.” Jurnal Kesehatan Mesencephalon 5, no. 2 (2019): 112-119. http://dx.doi.org/10.36053/mesencephalon.v5i2.147.

Sitepu, Mitsiebenson dan Lorenzius Rendy Pradana. “Membangun Semangat Persaudaraan Universal Menurut Ensiklik Fratelli Tutti dalam Konteks Bhineka Tunggal Ika.” Rajawali 20, no. 2 (2023): 51-58. https://ejournal.ust.ac.id/index.php/Rajawali/article/view/2919.

Taimenas, Maria Fatmawati F., Simplexius Asa, dan A. Resopijani. “Tinjauan Yuridis Mengenai Sanksi terhadap Pelaku Pemasungan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).” Politika Progresif 1, no. 2 (2024): 258-272. https://doi.org/10.62383/progres.v1i2.350.

Tarihoran, Bambang, and Nora Dolisna Simanjuntak. “Membongkar Fanatisme dan Membangun Persaudaraan Universal (Human Fraternity): Suatu Refleksi Kritis dan Anjuran Ensiklik Fratelli Tutti Atas Masalah-masalah Kemanusiaan Dewasa Ini.” Rajawali 21, no. 1 (2023): 26-33. https://ejournal.ust.ac.id/index.php/Rajawali/article/view/3087.

Viyo, Kornelis. I., Gonti Simanullang, dan Robertus Septiandry. “Kesadaran akan Identitas Makhluk Sosial dalam Diri Manusia untuk Membangun Persaudaraan dan Dialog “Tanpa Batas”: Refleksi Kritis tentang Persaudaraan dan Persahabatan Sosial dalam Ensiklik Fratelli Tutti.” Logos 21, no. 1 (2024): 39-47. https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/3415.